Feeds:
Posts
Comments

(Markus 10 : 35 – 45)


“Mengikut Yesus keputusanku, mengikut Yesus keputusanku, mengikut Yesus keputusanku, ‘ku tak ingkar, ‘ku tak ingkar”. Kalimat ini adalah teks sebuah lagu yang mungkin pernah kita nyanyikan atau kita dengar dalam persekutuan umat Kristen. Syair lagu ini seolah mengingatkan dan mempertanyakan apakah benar kita mengikut Yesus dan tidak ingkar?. Mari kita bahas dari sudut pandang Injil Markus hari ini.

Mengapa menjadi sebuah pertanyaan bagi kita karena menjadi pengikut Kristus bukan hanya pengakuan dari mulut saja melainkan dari perbuatan yang nyata. Kita dapat melihat percakapan dua orang murid Yesus, yaitu Yakobus dan Yohanes anak Zebedeus yang meminta posisi disebelah kanan dan kiri Yesus, namun mereka tidak mengetahui apa yang mereka minta,  karena mereka belum mengerjakan kewajiban mereka, namun mereka telah meminta hak. Namun Yesus menjelaskan bahwa mereka tidak mengetahui apa yang mereka minta, karena yang mereka minta bukan di dapat dari Yesus melainkan Allah Bapa yang mengutus Dia.

Pada dasarnya manusia di dunia terkadang serupa dengan murid Yesus, dimana setiap manusia selalu menginginkan hak-nya yaitu mendapatkan posisi yang baik tanpa melakukan kewajiban terlebih dahulu. Untuk mendapat posisi yang baik tentunya diperlukan proses atau perjuangan. Salah satu contoh yang dapat dilihat dalam percakapan Yesus dengan murid-Nya, mengingatkan posisi yang baik didapatkan dengan pengorbanan dalam pelayanan sama seperti apa yang Yesus lakukan kepada orang banyak saat itu, yaitu melayani dan memberikan nyawa-Nya (Mrk.10:45) bagi kita manusia berdosa.

Yesus tidak marah namun Ia tidak jemu memberikan pengertian dan pengajaran bahwa untuk posisi disebelah kanan dan kiri-Nya adalah tidak semudah yang mereka pikirkan. Yesus mengatakan apakah mereka mampu melakukan seperti yang Ia lakukan “meminum cawan yang harus Ku minum dan akan dibaptis yang harus kuterima”, lalu dijawab murid (Yohanes dan Yakobus): “itu kami dapat”. Namun Yesus mengatakan    ”tetapi hal duduk disebelah kanan-Ku atau sebelah kiri-Ku, aku tidak berhak memberikannya”.

Saat ini kita diajak untuk tidak memikirkan yang dipikirkan Allah Bapa atau memaksakan kehendak kita pada-Nya. Yesus mengajak semua murid agar menjalankan yang dikehendaki Bapa di dunia ini selagi kita hidup. Yesus datang ke dunia untuk misi Kabar Baik keselamatan untuk umat manusia.

Sifat manusiawi selalu memikirkan untung dan rugi dimana jika dipandang dari sifat manusiawi mengikuti Yesus berarti rugi. Menjadi yang berkenan dihadapan Allah seperti yang dikatakan Yesus “mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka”. Namun saat ini diajak dan disadarkan bahwa Yesus membawa cara yang baru yang tidak biasa dilakukan oleh manusia di dunia, seperti kata Yesus “Tidakkah demikian atas kamu, barang siapa ingin menjadi besar diantara kamu hendaklah menjadi pelayan”.

“Barang siapa ingin menjadi besar diantara kamu hendaklah ia menjadi menjadi pelayanmu”. Maksud dari kalimat itu adalah bukan pelayan dalam artian menjadi pembatu rumah tangga, melainkan menjadi penghibur, mengarahkan  keluarga, teman, dan sesama, kearah yang berkenan dihadapan Allah, dengan cara yang tidak memaksa dan kasar tetapi dengan lemah-lembut penuh kasih yang tulus serta tidak memperhitungkan untung-rugi, dan mencari nama/ ketenaran, politik, dst.

Hal inilah yang diinginkan oleh kita sebagai murid-murid Yesus pada masa kini. Untuk keadaan yang semakin sulit di Indonesia ini, dari segi politik, ekonomi dan sosial, politik, belum lagi masalah datang dari keluarga hubungan yang kurang harmonis dengan suami istri, begitu juga dengan anak yang sering melawan, pergumulan dengan penyakit, dengan teman sekerja, study dan tetangga, yang tidak membawa sukacita.

Jadi, mampukah kita menyingkapi segala masalah yang datang dengan pelayanan yang penuh kasih, dengan menciptakan suasana damai sejahtera yang dimulai dari diri sendiri dengan tidak mengandalkan keegoisan manusia belaka. Dapatkah kita menaklukan keegoisan dengan mampu menjadi pelayan yang rendah hati? Walau kecil di hadapan manusia, namun di mata Allah sangatlah berharga. Sehingga dengan demikian kita dapat menjadi pengikut Yesus yang setia, yang nyata dalam perkataan dan perbuatan, serta mampu mendamaikan masalah yang muncul dalam kehidupan kita. Amin.

(Diperhadapkan dengan Astrologi/Ramalan)


Pengantar

Tiap tahun ada zodiak bermuculan terutama di media massa (majalah dan buletin, atau beberapa koran) biasanya disisipkan, hal ini sangat diminati oleh kawula muda saat ini. Astrologi horoskop atau yang disebut zodiak dipandang sebagai cerminan pribadi seseorang yang dapat terlihat sesuai dengan tanggal, bulan dan tahun kelahiran. Banyak yang menawarkan tips-tips keberhasilan, melalui media elektronik (TV dan telepon baik via sms maupu internet, dst.) maka akan dituntut sikap yang sesuai dengan tanggal lahir (zodiak), sehingga diharapkan dapat berhasil dalam cinta, uang/ pekerjaan, jodoh, dan lainnya yang berhubungan dengan kehidupan. Berbeda sekali dengan kekristenan bahwa yang menentukan pribadi orang dan keberhasilan bukanlah astrologi horoskop akan tetapi karunia roh yang diberikan Allah dalam diri umat Kristen.

Oleh karena itu, kurang lebih kita akan melihat sejauh apakah makna astrologi horoskop bagi manusia, dan kepribadian yang dilihat dari pemaknaan karunia roh dalam diri umat percaya Yesus Kristus saat ini.

I.       Sejarah astrologi horoskop yang mempengaruhi manusia

Astrologi dipercaya sudah ada sejak tahun 2000 SM dan diciptakan oleh suku Babel (Babil/Babilonia) di daratan Mesopotamia, daratan antara sungai Tigris dan Efrad (sekarang Irak Tenggara) yang memang dikenal sebagai bangsa penyembah benda-benda langit yang diceritakan dalam Kitab Perjanjian Lama. Mereka menganggap matahari, bulan dan berbagai objek benda di langit sebagai dewa-dewi mereka dan percaya bahwa mereka dapat memprediksi masa depan dari pergerakan benda-benda langit tersebut. Dalam Perjanjian Lama kepercayaan terhadap astrologi telah disoroti karena menyampingkan kepercayaan terhadap Tuhan (Yes. 47: 13-14).

Bangsa Babel mulai menyebar ketika Bangsa Persia dan Media mengalahkan mereka pada tahun 539 SM dan menghentikan segala praktek kegiatan lama Bangsa Babel untuk kemudian diganti dengan praktek mereka sendiri. Bangsa Babel yang hijrah ke daratan Eropa Selatan (Roma dan Yunani) mulai melanjutkan praktik mereka tentang ilmu perbintangan dan menurunkannya ke anak-anak cucu mereka.

Pada sekitar akhir abad 2 SM setelah peristiwa Alexandria, ilmu astrologi bangsa Babel ini bercampur dengan tradisi dari Mesir sehingga menyebabkan terciptanya Astrologi Horoskop yang kemudian menyebar dengan cepat ke Eropa, Timur Tengah dan India hingga kemudian kita kenal sampai sekarang ini.

Seiring dengan munculnya berbagai agama seperti Kristen, Muslim, Yahudi dan lain-lain, ilmu astrologi turunan bangsa Babilonia kuno ini ditakuti akan mencampur ke agama-agama tersebut karena ilmu ini tidak didasarkan pada teori ilmu pengetahuan. Selain itu ditakutkan ilmu ini akan membawa pengaruh pada sikap umat yang menyebabkan orang tidak lagi percaya pada Tuhan dan berpaling dari Firman Tuhan. Oleh karena itu Astrologi sempat ditentang dan prakteknya dilakukan dengan sembunyi-sembunyi hingga akhirnya dapat diterima khalayak ramai pada jaman modern termasuk umat Kristen saat ini. Astrologi hanya berdasarkan perkiraan dan membaca pergerakan benda langit untuk melihat masa depan,

II.      Memahami Karunia Roh dalam Kekristenan

Karunia mempuyai arti pemberian menekankan kepada pemberian Allah kepada manusia sebaliknya untuk ungkapan syukur atas itu, maka ada memberika persembahan kepada Allah (dalam Perjanjian Lama), sedangkan dalam Perjanjian Baru anathema (Luk. 21:5). Roh sendiri Ruakh (dalam bahasa Ibrani), pneuma (dalam bahasa Yunani) angin, nafas maknanya merujuk kepada keadaan saat hidup atau berkaitan dengan mahluk hidup dalam PB mengacu pada Roh Kudus /Roh Allah. Jadi dapat disimpulkan bahwa karunia roh adalah pemberian dari Allah kepada manusia dan karunia roh itu berasal dari Roh Kudus atau Roh Allah (Kis. 5:3-4, 26:16-25; Ibr. 10:15), yang memiliki kepribadian (Ibr. 9:14; Mzm. 139:7-10;  Kis. 1:8; 1Kor. 2:10), dan melakukan pekerjaan Allah. (Kej. 1:2; 1 Kor. 6:11; 1 Pet. 1:21; Kis. 20:28). Namanya disebut bersama-sama dengan Allah (Mat. 28:20; 2Kor. 13:13). Biasanya Roh Kudus dilambangkan dengan  Angin (Yoh. 3:8) Merpati (Luk. 3:22) Api (Kis. 2:3) Materai (Ef. 1:13-14).

Karunia Roh bukan berasal dari dunia melainkan dari  Allah. Karunia Roh Kudus sudah ada sebelum dunia ada dan segala isinya tercipta (Kej. 1:1-2). Contohnya pada hari Pentakosta aktivitas Roh Kudus dinyatakan kepada manusia yang menunjukkan masa baru (Kis. 2).  Mereka semua berbahasa lidah atau “glossolalia,” istilah yang terbentuk dari bahasa Yunani, pada waktu Roh mengaruniai mereka kemampuan untuk berbuat demikian. Bahasa-bahasa lidah ini adalah bahasa yang dimengerti oleh orang-orang dari seluruh Kekaisaran Roma  yang datang ke Yerusalem untuk Pentakosta.

Sebagian orang percaya bahwa rasul-rasul itu diberi karunia suatu kemampuan yang luar biasa untuk dapat berbahasa asing yang mereka belum kenal. Dalam Perjanjian Baru, kitab Kisah Para Rasul menceritakan peristiwa “Pentakosta“, di mana “lidah-lidah api” hinggap pada para orang percaya mulai berkata-kata dengan bahasa-bahasa lain. Kitab Kisah Para Rasul (2:1) menggambarkan fenomena “penerjemahan mujizat”, di mana ketika Para Rasul sedang berbicara, orang-orang dari berbagai belahan dunia yang hadir mendengar mereka berbicara dalam bahasa mereka sendiri dan semua orang yang hadir terheran karena para rasul dapat di mengerti oleh pendengar (Kis. 2: 6-8).

Penulis Surat Yakobus menjelaskan bahwa setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang (Yak. 1:17). Pemberian yang baik berarti anugerah yang dipergunakan untuk kemuliaan Bapa yang di Surga. Dengan demikian dapat dipahami bahwa ada berbagai macam karunia roh yang diberikan oleh Allah kepada manusia ini. Rasul Paulus menggambarkan beberapa karunia roh seperti halnya: berkata-kata dengan hikmat, berkata-kata dengan pengetahuan, menyembuhkan, mengadakan mujizat, karunia untuk bernubuat, membedakan bermacam-macam roh, berkata-kata dengan bahasa roh, (1Kor. 12: 8-10). Selain itu seperti yang terdapat dalam Gal. 5: 22-23, dan semua karunia yang diberikan itu bertujuan untuk memuliakan Allah (1Pet. 4:11)  di dunia.

Oleh karena itu, penggunaan karunia roh hendaknya disesuaikan dengan kondisi kebutuhan untuk saling melengkapi dalam semua kekurangan yang ada terutama dalam gereja. Sebaiknya jika suatu karunia tidak cocok untuk dilaksanakan janganlah dipaksakan untuk jemaat tertentu karena itu tidak akan membangun persekutuan jemaat yang ada. Sebagai contoh: Rasul Paulus melarang untuk memaksakan memakai bahasa roh jika anggota jemaat lainnya tidak ada yang dapat menafsirkan sehingga tidak dimengerti oleh jemaat (1Kor. 14: 28), sehingga, karunia roh bukan sesuatu yang dipaksakan dan diwajibkan seseorang harus bisa dalam segala hal melainkan.

III.    Refleksi

Dalam pergumulan hidup mari kita bersama berrefleksi, terutama dalam keberadaan diri sebagai umat Kristen dalam dunia ini. Kecenderungan ini mengakibatkan manusia menjadi lebih mempercayai apa yang dikatakan oleh horoskop dalam menentukan sikap dan perilaku kehidupannya. Dengan sendirinya kepercayaan itu akan menjauhkan manusia dari percaya kepada Tuhan. Manusia yang mempercayai horoskop dengan sendirinya akan lebih menuruti apa yang dikatakan oleh horoskop dibandingkan dengan menuruti apa yang telah dikatakan oleh Firman Tuhan.

Mempercayai horoskop berarti melakukan apa yang diminta oleh horoskop tersebut dan menutup kesadaraan akan adanya karunia roh yang diberikan Tuhan pada diri manusia. Manusia mempunyai pribadi yang berbeda, tidak ada yang sama kembar sekalipun, jadi karunia roh yang diberikan Allah berbeda-beda seperti yang tertulis di Galatia “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri”.

Karunia roh memberikan pemahaman kepada setiap orang percaya bahwa hanya sesuai dengan kehendak Allah-lah setiap orang percaya melakukan aktifitasnya dan penentu masa depan manusia. Tidak ada yang menguasai kehidupan ini selain Allah sendiri. Segala yang ada di bumi merupakan ciptaan Allah yang harus dipergunakan untuk memuliakan Allah. Pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki manusia harus dipergunakan untuk memuliakan Tuhan saja.

Allah selalu memberikan yang terbaik buat orang yang percaya. Nabi Yesaya mengatakan bahwa Allah merancangkan yang terbaik bagi orang percaya yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan (Yer.29: 11). Oleh sebab itu apapun yang sedang dihadapi oleh orang percaya dalam dunia ini bukan berarti bahwa Allah melupakan kita akan tetapi Dia sedang merancang yang terbaik bagi kita. Kesulitan yang dihadapi bukan berarti menjadikan kita mencari penyelesaian kepada ilah-ilah lain.

Bermacam-macam karunia roh seperti yang terdapat di akan tetapi semua itu berasal dari satu sumber dan dikerjakan oleh satu sumber pula yaitu Roh yang dari pada Allah. Oleh karena itu karunia roh harus dipergunakan untuk kepentingan yang memberi yaitu Allah, pemujaan berhala. Kecenderungan ini jelas terlihat dengan semakin banyaknya iklan-iklan di media massa yang menyajikan astrologi horoskop dengan menjanjikan yang masadepan yang baik saja, sehingga agak susah membuat  orang bertobat, susah menyadari/menyangkal kekurangan dirinya. Hal itu tidak sesuai dengan ajaran Kekristenan yang mengajarkan untuk berubah sesuai dengan kehendaknya, seperti yang tertulis di Yakobus 4:15; “Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.”

sehingga manusia merencanakan tetapi yang menentukan dalam kehidupan manusia. Ajaran Kristen tidak memanjakan umat-Nya melainkan menatakan yang sesungguhkan agar dapat memperbaiki, ataupun melepaskan manusia dari kehidupan yang kurang baik atau bertobat dan berbalik pada Allah dengan pedoman jalan kebenaran Yesus Kristus.

IV.    Penutup

Ada banyak godaan di dunia ini yang menarik hati manusia untuk percaya dan melakukan seperti yang diminta untuk keberhasilan yang bertentangan pada Firman Tuhan yang mendua hati percaya kuasa astrologi horoskop dari pada Allah. Allah memberikan karunia roh kepada semua umatnya, tidak dengan prasayarat melainkan gratis, secara cuma-cuma. Hanya saja kita sebagai umat Kristen tidak percaya diri sehingga tidak meyadari ada karunia roh dalam diri.

Banyak hal yang membuat kita tidak meyadari ada karunia roh dalam diri, yaitu macam kesulitan yang kita hadapi selama masih di dalam dunia ini. Namun orang percaya diminta untuk hanya bersandar kepada Allah  yang merupakan Juruselamat manusia.

Segala pengetahuan dan juga segala ketrampilan yang dimiliki oleh orang percaya harus digunakan demi kemuliaan Allah. Rasul Paulus berkata bahwa kepada setiap orang diberikan karunia roh demi kepentingan bersama (1Kor. 12:7). Apapun yang kita miliki hendaknya itu dipergunakan demi memuliakan Allah dan demi meneguhkan persekutuan orang percaya. Segala sesuatu yang menjauhkan kita dari Allah harus kita hindari. Jika dengan menuruti astrologi horoskop orang percaya menjadi menduakan Allah maka haruslah dihindari, sebab hanya ada satu jalan menuju keselamatan yaitu Allah.

(Yesaya 54 : 7 – 10)

Seorang anak yang melakukan kesalahan pada orangtuanya dengan melawan perintah orangtua serta sering mengecewakan hati orangtuanya akan membuat orangtua menjadi marah, sakit, dan bahkan bisa mengakibatkan si anak diusir dari rumah. Jika seorang kekasih melakukan kesalahan seperti berbuat kasar, dan bahkan yang paling tidak bisa diterima jika kekasih melakukan perselingkuhan, dapat mengakibatkan pasangannya menjadi marah dan bersedih. Jika seorang murid melanggar peraturan sekolah, dan tidak mengerjakan tugas guru, maka guru akan marah dan memberikan sanksi.

Kejadian seperti itu mungkin pernah kita alami, atau dengar disekitar kita. Setiap orang mempunyai respons masing-masing dalam menyingkapi kekecewaan dan kemarahan dari orang lain.

Sebuah pertanyaan untuk kita, apakah yang terjadi jika Tuhan yang marah sehingga ia murka pada manusia? Mungkin akan terjadi seperti Nuh, atau seperti pada masa yang diceritakan dalam film ”2012” mengenai kehancuran dunia ini, dan lain sebagainya. Alkitab secara khusus dalam Perjanjian Lama menunjukkan kepada kita bagaimana Allah murka kepada Bangsa Israel. Namun, saat ini kita diingatkan untuk dapat bersyukur pada Allah yang telah murka kepada manusia karena melakukan dosa sepanjang hidupnya terhadap sesama maupun pada-Nya.

Murka Allah tidak berlangsung lama dan bahkan Ia telah menghibur kita melalui Roh Kudus yang nyata dalam kehadiran anak-Nya Yesus Kristus di dunia ini. Allah tidak memusnahkan melainkan memberi keselamatan dan penghiburan yang abadi melalui Yesus Kristus yang menebus dosa manusia. Allah layaknya seorang Bapa terhadap anaknya yang walaupun marah tetapi tidak akan menghajar anaknya hingga meninggal dunia, akan tetapi sebaliknya Ia menyayangi manusia yang berdosa. Kasih sayang Allah diwujudkan dengan selalu mengingatkan manusia akan dosa dan pelanggarannya. Allah merespon ulah manusia dengan kasih-Nya yang tak berujung.

Sama seperti yang dilakukan Yesus semasa hidup-Nya. Tidakkah kita bersyukur saat ini, siapakah kita hingga kita layak menerima ampunan dari-Nya? Apakah yang telah kita perbuat pada-Nya? Tidak ada, yang ada kemarahan dan kekecewaan karena kita sering melanggar perintahnya. Namun pada saat ini, kita diajak seperti nabi Yesaya yang menuangkan pergumulan iman percayanya. Ia telah merasakan kasih setia Allah termasuk pada bangsa Israel, dalam tulisannya itu Yesaya bersyukur yaitu “Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang, firman TUHAN, yang mengasihani engkau” (Yes. 54:10)

Janganlah kita menyalah-gunakan kebaikan Allah sehingga kita melakukan kesalahan yang sama dan kita mengetahui prilaku kita tidak berkenan dihadapan-Nya, melainkan kita berusaha dalam pergumulan yang sulit ini janganlah kita menuai murka Allah melainkan mencoba menjadi seorang anak yang selalu membahagiakan dan menyenangkan orangtuanya. Kita semua hingga saat ini masih merasakan berkat-Nya dan merasakan dan penghibura-Nya dikala masa sulit melalui orang sekitar.

Marilah bersyukur pada Allah melalui prilaku kita yang menyatakan bahwa kita adalah Anak Allah, keluarga Kristus yang sudah dahulu mengasihi sekarang berusaha mengasihi sesama dalam kasih Kristus. Janganlah kita terlalu cepat marah yang dapat mengakibatkan murka yang merusak relasi dengan sesama dan juga dengan Tuhan. Kiranya Roh Kudus memampukan kita untuk dapat selalu bersyukur dan tidak menjadi manusia pemarah terhadap sesama melainkan berperilaku sama seperti Allah yang mengampuni dan menghibur sesama. Itulah kesaksian orang percaya pada saat ini.  Amin.

(Suatu cara untuk menjadikan hidup bahagia)

(Mazmur 128:1-6)


“Hari esok harus lebih baik dari hari ini”. Kata ini tidak asing di telinga kita karena manusia di dunia selalu mengharapkan kehidupan lebih baik dari saat ini. Orang banyak melakukan hal untuk mendapatkan hidup yang baik seperti menggapai ilmu setinggi-tingginya, mencari pekerjaan yang baik dengan pendapatan yang cukup bahkan lebih.

Kehidupan lebih baik bukan sekadar harapan tetapi juga perjungan manusia untuk dirinya dan terlebih untuk orang yang disayanginya. Sebut saja salah satunya dalam sebuah keluarga, seorang ayah akan bekerja untuk memenuhi kebutuhan istri dan anaknya, bukan hanya dirinya yang diperjungankan tetapi kebutuhan istri terlebih anaknya dan pendidikan anaknya. Setiap orangtua tentunya ingin anakanya menjadi lebih baik dari dirinya (orangtuanya) saat ini. Oleh karena itu maka sang ayah dan ibu akan memeras tenaga dan pikiran/memutar otak hingga ada istilah ”kepala jadi kaki, kaki jadi kepala” yang mengungkapkan bahwa seseorang akan memperjuangkan jiwa dan tubuh untuk kemajuan dan kebaikan orang yang disayanginya.

Setiap manusia akan memperjungakan apa yang baik untuk dirinya dan orang yang disayangi terutama keluarga. Mulai dari lingkup kecil yang merupakan pondasi awal yaitu keluarga yang terdiri dari seorang suami, istri dan anak, jika tidak dibina dalam harapan hidup lebih baik maka keluarga tidak maju berkembang kearah yang lebih baik. Jadi pondasi yang kuat dibuat dari suami, istri atau orang tua agar anak yang dianugrahi Tuhan dapat merasakan pancaran tanggungjawab dalam kasih untuk mendapatkan hidup yang lebih baik secara bersama-sama atau bersatu. Memang dengan usaha dan pikirian manusia dapat berinteraksi dan mengapai yang diharapkan tetapi akan sulit dan tidak seimbang jika manusia tidak menyertai Tuhan dalam settiap langkah, rencana yang kita gumuli saat ini.

Akan terasa bedanya jika kita mengandalkan kemampuan diri dengan kemampuan yang berasal diberkati oleh Tuhan. Kali ini kita diajak berrefleksi, bahwa hidup yang lebih baik tidak melulu didapat dari dunia, namun dapat dirasakan di dunia ini, yaitu berasal dari Tuhan yang dapat membuat hidup manusia berbahagia. Tentunya ada ketentuan yang berlaku sesuai dengan Firman Tuhan yaitu takut akan Tuhan dan hidup menurut jalan yang ditunjukkanNya (ay.1) dalam kehidupan kita sehari-hari.

Bagaimanakah pemahaman takut akan Tuhan? Takut dalam hal ini bukanlah seperti kita takut melihat sesuatu yang menakutkan yang dapat mengancam jiwa kita, akan tetapi takut yang dimaksud adalah menghormati Tuhan dengan cara mengenal, memahami, lalu berperilaku seperti yang Dia inginkan. Dalam hal ini adalah menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan dan bukan diri kita yang menjadi pusat kehidupan.

Dengan takut akan Tuhan pasti menghadapi banyak tantangan dan hambatan. Kita terlalu sering menempatkan diri kita menjadi pusat kehidupan kita. Terlalu sering kita melakukan apa yang kita inginkan dan mengacuhkan apa yang Tuhan inginkan dari kita. Melakukan apa saja yang kita inginkan bukanlah suatu jaminan bahwa hidup kita menjadi bahagia dan lebih baik. Dengan takut akan Tuhan berarti ada peraturan yang harus kita turuti dalam hidup ini.

Apakah kebahagiaan kita jika takut akan Tuhan? Adalah jika kita mampu menikmati hasil jerih payah kita. Fenomena yang terjadi pada masa kini adalah kecenderungan manusia yang tidak dapat menikmati apa yang telah diperolehnya. Perilaku manusia pada masa kini adalah selalu merasa kekurangan sehingga sifat kekurangan menjadikan manusia jatuh dalam ketamakan.

Dengan dapat menikmati apa yang ada padanya maka manusia akan mampu mengucap syukur pada Tuhan. Segala sesuatu yang ada padanya dirasakan sebagai karunia Tuhan yang sangat berharga dan untuk itu akan dipelihara dengan sunguh-sungguh. Hal inilah yang menjadikan hidup manusia menjadi bahagia dan lebih baik. Bukan harta yang banyak atau jabatan yang tinggi yang membuat hidup lebih baik akan tetapi takut akan Tuhan dan hidup menurut jalan yang ditunjukkanNya.  Amin.

1 Timoteus 6 : 11 – 16)

Apakah yang anda kejar dalam kehidupan ini? Uang, pekerjaan baik, barang mewah, atau kekayaan? Dari sudut pandang yang berbeda pada hari ini berdasarkan Firman Tuhan, bukan yang utama atau ukuran dalam mencapai hidup yang baik dengan menghitung banyaknya kekayaan atau materi, yang terlihat dan dirasakan hanya sementara dalam kehidupan manusia, sehingga hal itulah yang dikejar selalu. Namun saat ini ukuran yang utama yang melebihi kekayaan di dunia, yang perlu dikejar oleh manusia adalah keadilan, ibadah kesetian, kasih, kesabaran, dan kelembutan, Semuanya itu bersifat kekal (1Tim. 6:11-12a) dan tidak dapat dibeli dengan kekayaan atau uang sebanyak apapun.

Hal yang berharga yang kita perjuangkan di dunia adalah suatu pertarungan yang dibutuhkan dengan modal iman yang benar. Setiap manusia dan yang percaya pada Allah melalui anak-Nya Yesus Kristus, sekarang diingatkan untuk melakukan perjuangan sama seperti Yesus yang memenangkan perjuangan untuk menyelamatkan manusia dari dosa.

Perjuangan sesungguhnya adalah jika kita mampu menyeimbangkan kebutuhan jasmani dan rohani kita. Janganlah kebutuhan jasmani membutakan mata iman kita sehingga kita tidak dapat berkembang. Tidak sedikit manusia terjerumus dalam dosa karena hanya mengutamakan kepentingannya dengan jalan yang salah. Terdapat beberapa kasus yang menggambarkan bahwa manusia hanya memikirkan kebutuhan jasmani dan duniawi saja, seperti pencurian, pembunuhan, penyalahgunaan narkotika, pemerkosaan, dan lain sebagainya.

Akibat perkembangan zaman dan kebutuhan yang semakin bertambah secara tidak langsung membuat manusia tidak sadar bahwa uang atau nafsu keduniawian/”ego” manusialah yang menjadi anutan dalam melakukan pekerjaan, bukan lagi Firman Tuhan. Renungan kali ini, tidak memberikan kekayaan yang terlihat namun dapat dirasakan dan dilihat hasilnya pada akhir perjuangan umat yang beriman. Umat yang beriman bukan sekadar rajin beribadah tiap minggunya, atau membaca Alkitab, akan tetapi lebih dari itu orang percaya ditantang untuk menyatakan iman dalam kehidupannya. Mampukah orang percaya menyatakan imannya dalam kehidupan yang sulit mulai dari sosial/politik Indonesia, ekonomi yang semakin sulit, dan juga lapangan pekerjaan yang semakin sulit.

Tanda dari orang yang percaya adalah semakin dilanda masalah maka ia akan semakin berjuang dengan berpedoman kepada jalan kebenaran dari Kristus Yesus. Yesus yang dalam masa kehidupannya adalah saksi iman yang hidup yang dipercayai telah berjuang untuk kita manusia yang berdosa. Ia tidak mengeluh melainkan berjuangan untuk keselamatan manusia.

Walaupun konteks yang kita hadapi dengan masa hidup Yesus namun bukan berarti pergumulan iman manusia tidak lepas dari Dia yang memberikan keselamatan. Oleh sebab itu kita meniru semangat perjuangan-Nya selama kita masih hidup di dunia ini. Orang percaya harus mengejar “keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan”, orang percaya berjuang melawan sifat egoisme yang hanya memikirkan hidup keduniawian. Kekuatan orang percaya untuk memenangkan perjuangan dalam dunia ini adalah dengan percaya kepada Yesus Kristus Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorang pun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. Bagi-Nyalah hormat dan kuasa yang kekal!  Amin.

(Ulangan 6 : 4 – 9)

Setiap manusia tidaklah secara otomatis memahami dan mengetahui sesuatu hal akan tetapi harus belajar sebelum memahami sesuatu hal. Sejak lahir manusia belajar untuk berjalan, untuk makan, untuk berbicara, dan lain sebagainya. Manusia haruslah mempelajari terlebih dahulu sehingga akhirnya dapat mengetahui dan memahami untuk kemudian dapat mengajarkan kembali apa yang telah diketahuinya.

Untuk mempelajari sesuatu membutuhkan proses, waktu, biaya, dan juga tenaga. Tidak ada sesuatu yang dengan sendirinya langsung diketahui oleh manusia, akan tetapi harus melalui proses dalam hidupnya, baik itu berupa pengajaran langsung dari manusia lainnya ataupun dari pengalaman pribadi.

Demikian juga dalam mengenal dan memahami Yang Maha Kuasa. Pengenalan dan pemahaman terhadap Allah diperoleh dari pengalaman hidup dan juga dari pengajaran generasi terdahulu.

Pengenalan dan pemahaman yang baik tentang Allah akan membuat manusia mangasihi Allah dan hal tersebut harus dimulai sejak anak-anak. Jika sejak kecil manusia sudah diberikan pengajaran tentang Allah maka sesudah dewasa akan mampu untuk selalu mengasihi Allah.

Merupakan tugas dan tanggungjawab untuk mengajarkan firman Tuhan kepada anak-anak. Tugas dan tanggungjawab ini tidak bisa diwakilkan kepada orang lain. Kecenderungan yang terjadi pada masa kini adalah adanya pemikiran orangtua bahwa tugas dan tanggungjawab untuk mengajarkan Firman Tuhan kepada anak merupakan tugas gereja ataupun para pelayan gereja saja.

Musa dengan tegas bahwa tugas mengajarkan firman Tuhan haruslah dilakukan oleh setiap orangtua terhadap anaknya dalam berbagai aktifitas mereka. Semua aktifitas yang dilakukan haruslah mengandung pengajaran mengenai firman Tuhan; di saat duduk, dalam perjalanan, saat berbaring, dan juga ketika bangun (Ul. 6:7).

Di sisi lain, penulis Kitab Amsal mengatakan bahwa pengajaran kepada anak-anak adalah penting sebagai bekal anak pada masa tuanya agar tidak menyimpang dari jalan yang benar (Ams. 22:6).

Dari kedua nas tersebut dapat dipahami bahwa pengajaran firman Tuhan kepada anak-anak bertujuan untuk memperlengkapi anak-anak dalam menapaki masa depannya sehingga setelah dewasa mereka mempunyai bekal kerohanian untuk menjalani kehidupannya. Kehidupan sekarang pasti berbeda dengan kehidupan masa depan yang akan dihadapi oleh si anak, namun apapun yang dihadapi anak nantinya dia akan tetap berpegang teguh pada pengajaran firman Tuhan karena telah mempunyai dasar kokoh.

Kehidupan yang lebih bermartabat akan dapat dicapai jika firman Tuhan diajarkan sejak anak-anak, karena buah dari pengajaran adalah dapat mengambil keputusan yang sesuai dengan firman Tuhan. Jika suatu keputusan diambil sesuai dengan firman Tuhan maka  pelanggaran, kesalahan, dan kecurangan akan dapat dihindari. Inilah yang menjadikan kehidupan lebih baik.

Renungan minggu ini juga mengajak orangtua atau generasi tua untuk selalu memperlengkapi diri dalam mengajar anak-anaknya. Tidak mungkin mengajar firman Tuhan jika orangtua tidak mempunyai pengetahuan akan hal tersebut. Satu hal yang tidak boleh dilupakan oleh orangtua adalah bahwa orangtua merupakan guru rohani bagi anak-anak. Menjadi guru rohani berarti bahwa orangtua haruslah juga mempelajari firman Tuhan terlebih dahulu sehingga dengan demikian orangtua dapat mengajar anaknya dalam ajaran dan nasihat Tuhan (Ef. 6:4).  Amin.

(Yohanes 17 : 20 – 23)

Disadari atau tidak, persatuan dibutuhkan dalam berbagai aspek kehidupan manusia untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan adanya persatuan maka masalah yang datang akan dapat diatasi secara bersama-sama. Dalam hubungan keluarga, bermasyarakat dan bernegara, persatuan diperlukan untuk menjaga tetap utuh. Jika tidak ada persatuan dalam keluarga maka pekerjaan apapun dalam rumahtangga tidak akan bisa diselesaikan. Demikian juga dalam sejarah bangsa Indonesia dapat dilihat bagaimana dengan adanya persatuan maka perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdakaan dapat tercapai.

Segala perbedaan yang ada terikat dalam persatuan untuk mencapai suatu tujuan. Dengan demikian harus dipahami bahwa persatuan bukan berarti menghilangkan perbedaan akan tetapi mengikat perbedaan yang ada sebagai suatu kekayaan yang dapat dipergunakan demi mencapai tujuan bersama.

Secara kemanusiaan, murid-murid Yesus mempunyai perbedaan dan ciri khas tersendiri, namun secara kerohanian murid-murid bersatu di dalam persekutuan dengan Yesus. Murid-murid bersatu dalam iman dan dalam tujuan yang sama yaitu melanjutkan pekerjaan Yesus di dunia ini. Itulah sebabnya sebelum ditangkap untuk disalibkan dan mati di kayu salib, Yesus berdoa untuk murid-muridNya. Yesus berdoa supaya murid-muridNya tetap bersatu dalam menghadapi kehidupan di dunia. Bersatu bukan berarti menghilangkan perbedaan yang ada pada murid-murid akan tetapi menjadikan setiap murid memiliki tanggungjawab terhadap tujuan pemanggilan mereka yaitu menjadi penjala manusia (Mat.4:19). Dengan bersatu setiap murid akan menjadi satu hati dan satu suara untuk memuliakan Allah Bapa (Rm.15:6).

Setiap orang yang percaya menjadi masuk dalam persekutuan dengan Kristus. Hal itu nyata dalam baptisan yang diterimanya dimana dalam baptisan setiap orang menyatu dalam kematian dan kebangkitan Yesus Kristus (Rm.6:4).

Persekutuan orang percaya lebih dari sekedar suatu perjanjian ataupun kesepakatan untuk menuju tujuan bersama. Persekutuan orang percaya layaknya kesatuan yang terjadi antara suami istri dimana adanya suami dan istri menyatu dalam suatu hubungan yang erat dan akrab.

Menyatu dalam hubungan yang erat dan akrab adalah tujuan dari Doa Yesus. Tanpa adanya hubungan yang erat dan menyatu diantara orang-orang percaya maka tujuan untuk mewujudkan kasih Allah di dunia ini tidak akan dapat dilaksanakan. Itulah sebabnya Yesus tidak meminta kekayaan, kesehatan, metode penginjilan, atau jaminan keselamatan untuk murid-muridNya, akan tetapi Dia meminta kesatuan diantara para murid. Dengan adanya kesatuan diantara murid maka hambatan akan dapat diatasi.

Gereja adalah Tubuh Kristus (1Kor.12) dimana Kristus adalah Kepala dan semua anggota jemaat adalah anggota-anggota tubuhNya. Ada hubungan yang sangat dekat dan bahkan menyatu antara Kristus dan gereja. Hidup gereja berpusat dan tunduk kepada Kristus. Gambaran ini menunjukkan ada hubungan yang sangat dekat dan bahkan menyatu antara masing-masing anggota. Masing-masing anggota mutlak bekerjasama dan merasa sepenanggungan.

Kerjasama mutlak diperlukan dalam suatu persekutuan karena dalam persekutuan setiap anggota yang terikat dengan kerelaan hati saling menanggung kelemahan yang lain serta setiap orang akan mencari kesenangan sesama demi kebaikannya untuk membangun (Rm.15: 2).

Untuk itu kesatuan mutlak diwujudkan dalam segala kehidupan khususnya dalam kehidupan orang percaya karena kesatuan orang percaya tidak hanya berimplikasi dalam kehidupan dengan masyarakat di sekitar akan tetapi juga sebagai suatu cara kepada dunia ini untuk menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah yang telah diutus ke dunia ini.  Amin.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.